Full Day In Sunday "OPPA"
Minggu tanggal 9 bulan 10 tahun 2016 tanggalnya mungkin kebalikan dari akhiran 6 di 2016, apakah buruk? Tidak ada ji yang namanya buruk semua anugrah dari Tuhan. Tetap minggu dan minggu adalah hari libur, hari untuk bermalas-malasan, hari malas bangun, malas mandi. Kalau kata di video instagram milik @CHANDRALIOW “libur kok mandi? “Khampungan!!!“. jadi begitulah yang saya lakukan hari ini, sama seperti hari sabtu kemarin bedanya hari ini saya tidak begadang karna saya berniat menyelesaikan tesis yang bab 2 belum saya selesaikan dari kemarin malam. Dan saya sudah membuat jadwal hari minggu ini saya mengikuti 2 kelas yang temanya berbeda yang satu kegiatan outdoor yang satunya kegiatan indoor.
Namun saat saya sedang bermimpi, tapi saya lupa apa mimpinya. Karena na bilang dosenku 90% mimpi itu akan terlupa saat kita bangun, saat bangun saja dilupa mi apalagi ini ada 3 kegiatan yang saya ikuti. Jadi lupakan mi mimpiku. Kembali pada saat saya mimpi, bunyi hpku yang komunikater (komunikasi dan senter kalau na bilang salah satu iklan di Televisi “Muka masa kini!! HP masa gitu” kalau saya ditanya begitu paling bilang ka “biar mi karna 2 ji hpku” jadi hp komunikater itu kwodong tidak selamanya ji jelek, popular ji juga tapi pada masanya.
Ternyata telponnya seniorku, ada bede pelatihannya di hotel dan menyuruh saya menggantikan salah satu temannya yang tidak jadi ikut. Jadi dipikiranku kalau bilang orang hotel pasti enak-enak makanannya. Jadi saya iyakan untuk ikut itu pelatihannya, saya tinggalkan lagi tesisku yang belumpi kelar-kelar demi sesuap nasi. Belumpi selesai pelatihan yang di hotel pergi ma lagi karena sudah mi saya jadwalkan untuk kegiatan selanjutnya walaupun kopi ji di nikmati. Tapi alhamdulillah mi bisa lagi masuk hotel.
Setiba ditempat kegiatan yang satu yang temanya berkebun. Ya berkebun-kebun maki ini. Ya anggapan orang kalau di kota itu nda bisa berkebun itu salah besar. Tidak perlu ji kebun yang luas, berhektar-hektar kayak lapangan pesawat terbang. Yang dibutuhkan sebenarnya adalah bibit dan media. Medianya juga yang kecil-kecil saja. Macam pot atau botol-botol bekas yang sudah na buang orang-orang, dari pada jadi sampah mending kita gunakan untuk tempat tanaman ta. Jadi kita bisami tanam sayur, tanam bunga juga. Tidak perlu mi lagi belanja sayur banyak-banyak dipasar. Kan ada mi tanaman sayur ta di pot.
Tiba pukul 18.30 wita Makassar mulai diguyur hujan yang itensitas airnya sedikit tapi lumayan banyak. Kan ada pepatah yang mengatakan “sedikit-demi sedikit lama-lama jadi bukit” kalau ini hujan sedikit demi sedikit tapi lama-lama basah mami. Saya bertekad melanjutkan perjalanan ke sebuag cafĂ© tempat kegiatan ini berlanjut. Ekspektasi saya saat itu, ahh paling pematerinya ini sama ji yang 2 kegiatan yang saya ikuti, ada yang tidak menariknya namaya juga pemateri lokal jam terbangnya belum pi ditau seberapa banyak. Sesampanya saya disana dengan sedikit gelisah karena belum ada teman-teman yang ngumpul saya lihat, jadi saya chat line koordinatornya kak fachri untuk menanyakan lokasi duduknya dimana. Dan taklama kak fachri pun keluar, kemudian sama diantarkan masuk oleh kak adi (karna kak fachri yang suruh).
Saya langsung takjub pada seseorang yang duduk menunduk dikursi yang mejanya agak besar. Dalam hati saya bertanya inikah pematerinya. Kalau iya kenapa dia cepat sekali datangnya, na pesertanya baru kak fachri sama kak adi yang notabenenya mereka adalah penyelenggaranya. Saya mau sapa tapi agak malu karena dia sedang sibuk dengan gawainya yang lebar.
Satu persatu teman Pecandu Aksara sudah berdatangan, acarapun dimulai dengan pembukaan oleh moderator ya kak fachri sendiri. Dengan memperkenalkan pemateri yang akrab di sapa OPPA LEBUG, yang awalnya saya pikir panggilan OPPA itu panggilan kakek.
Nah masuk sesi pemateri yang langsung memperkenalkan Identitas aslinya, nama sebenarnya “SYAMSUL” (kalau tidak salah karena saya lupa-lupa ingat) yang akrab di panggil “kak ancu” dan latar belakangnya yang mengapa iya menggunakan kata Oppa lebug, ternyata beliu suka film korea yang itu kalau di film kalau si perempuan ini menggangil kak laki-lakiya dengan sebutan “OPPA” di situ mi kak ancu ganti namanya jadi OPPA Lebug. Tapi kalau Lebug nya saya belum tau.
Ternyata oh ternyata ekspektasiku tidak sama dengan kenyataan. Ternyata Oppa Lebug keren caranya bawa materi. Santai tapi serius, berbobot sekali. Tidak sia-sia ka tembus hujan dan sampai berjam-jam duduk tidak terasa sekali selesai mi materinya.
Sedikit review tentang materi Oppa Lebug.
Jadi seorang penulis itu harus “Kepo”. Apa itu? ya penulis itu harus mau cari tau apa yang akan dia tulis, misalnya apa yang lagi trend sekarang atau apa yang orang lain gosipkan sekarang. Itu semua bisa menjadi suatu bahan tulisan yang bisa jadi menjadi sesuatu yang baru bagi orang lain yang belum pernah dengar. Jadi ide-ide untuk membuat suatu tulisan itu jangan mi jauh-jauh cari, cukup aktivitas yang dikerjakan setiap hari.
Menulis itu jangan mi kita selalu mau menulis hal-hal besar, mulai dari yang kecil-kecil dulu. Karena bisa jadi banyak orang yang belum membaca hal-hal kecil. Karena otak manusia itu cenderung menerima ide dengan menggunakan pikiran sadarnya, iya tak memperdulikan lagi pikiran bawah sadarnya, contohnya jam tangan yang mungkin sebagian orang memakainya, tiap hari na pake tapi ciri-ciri jamnya sendiri tidak na tau, yang na tau jam nya menunjukkan angka.
Menulis itu sama seperti menulis sebuah diari, yang menceritakan apa yang sedang dialami saat ini, kadang tulisan di diari kita senang, kadang sedih, jegkel bahkan marah semua itu akan kita tuangkan di diari itu. menulis di diari itu kita sangat jujur menungkapkan unek-unek kita dan juga membuat menjadi terapi untuk diri kita.
Jadi menulis itu sangat mudah, ide untuk sebuah tulisan itu ada disekitar kita. Tapi memang kadang kala kita melupakan atau membiarkan ide itu karena adanya gawai yang kita pegang tiap hari. Kita jarang lagi menulis karena banyaknya media sosial yang kita punya grup-grup akun sosial lainnya yang mengungah gambar dan lain sebagainya. Tapi sebenarnya gawai itu mampu menolong kita untuk membuat suatu ide tulisan yang bisa jadi membantu orang lain. Kalau menurut teman saya di kompasiana Makassar ya menulis itu bisa menjadi “Amal Jariah”. Kita sebar di media dan berguna untuk orang itu, orang itu sebar lagi dan seterusnya. Jadi mungkin orang lain yang tidak kita kenal namun dia baca tulisan kita masalah nya bisa terselesaikan. Wallahualam
Jadikan anda ini seorang pembaca, jadi kadang kala kita mencari reverensi di Mbah Google. Pencarian kita itu bisa menjadi sebuah ide utuk tulisan baru anda. Jadi anda melihat-lihat dulu gaya tulisan mana saja yang sudah ada, atau poin-poin apa saja yang sudah iya bahas, mungkin ada salah satu tulisannya itu tidak dijelaskan lebih rinci lagi dan orang lain sering mencari rincian dari poin-poin tersebut. Maka disitu kita sudah bisa menulis tentunya dengan referensi-referensi yang lain atau bisa juga dengan cara mengambil sebuah buku dan mengacak kata dalam buku itu dan pilih mana yang akan dijadikan tema tulisan anda itu. Meriveiw sebuah buku atau film juga mampu membantu kita untuk menulis. Bahkan ada yang tidak mempunyai ide pun jadi tulisannya, malah bisa sampai Sembilan ratus tujuh puluh katadan tulisannya mampu membuat dia juara di kelasnya. Intinya jangan “MALAS MEMBACA”. Kalau ada orang bilang tidak tau ka menulis satu ji yang di jawabkan ki “kah kuttu ji ko memang”.
Ada lagi yang harus kita ketahui yaitu sudut pandang. Kadang kita berdebat dengan teman kita karena permasalahan sepele contohnya ini percobaan dikelas tadi. kita dikasi sebuah kertas hvs, yang produksinya sama, bahannya sama, warnanya sama bahkan pertanyaan yang di ajukan sama “apa yang kau lihat dari kertas itu” dari empat orang ditanya beda-beda ki jawabanya. Melis jawab ada butiran-butiranya, pak puguh jawab ada banyangannya, cowok disebelahnya pak puguh jawab melihat disudut mana iya akan menuangkan tulisannya, dan terakhir kak irma menjawab kalau yang iya lihat adalah banyangan kekasihnya.
Setiap orang mempunyai sudut pandang berbeda, entah dipengaruhi oleh tempat lahir, tempat bergaul, tempat dia sekolah, latar belakang orang itu sangat berbeda. Pepatah orang barat sana “how something appears is always a matter of perspective” (cari maki di google artinya nah).
So banyak orang-orang di antara kita suka membuli orang lain, yang padahal itu sebagian orang melakukannya. Jadi jangan munafiklah, berarti kita membuli diri kita sendiri. Hanya saja dia yang apes mungkin tertangkap kamera dan menjadilah trending topik di segala media. Jika pintar-pintarlah kita menempatkan diri kita dalam hal-hal yang di anggap tabu dan tidak layak di pertontonkan.
Dalam suatu penulisan itu, jika kita ingin membuat orang lain menarik untuk membacanya ya percantik judul anda buat semenarik mungkin, mungkin iramanya yang enak didengar atau membuat orang lain penasaran, yang kedua adalah kata pertama yang kita tematkan diawal paragraf harus semenarik mungkin, bisa dengan sebuah kutipan atau pernyataan orang lain.
Kesimpulannya, menulis membuat kita sehat dan menulis itu membuat kita cerdas. Apalagi kalau menang ki, lumayan bisa bayar cicilan. Yang penting, ini saya kutip dari dosen saya lagi “ menulis itu bisa membuat orang lain kenal kita walau pun kita sudah meninggal, jadi tulisan kita itu warisan untuk anak Cucuta”
Namun saat saya sedang bermimpi, tapi saya lupa apa mimpinya. Karena na bilang dosenku 90% mimpi itu akan terlupa saat kita bangun, saat bangun saja dilupa mi apalagi ini ada 3 kegiatan yang saya ikuti. Jadi lupakan mi mimpiku. Kembali pada saat saya mimpi, bunyi hpku yang komunikater (komunikasi dan senter kalau na bilang salah satu iklan di Televisi “Muka masa kini!! HP masa gitu” kalau saya ditanya begitu paling bilang ka “biar mi karna 2 ji hpku” jadi hp komunikater itu kwodong tidak selamanya ji jelek, popular ji juga tapi pada masanya.
Ternyata telponnya seniorku, ada bede pelatihannya di hotel dan menyuruh saya menggantikan salah satu temannya yang tidak jadi ikut. Jadi dipikiranku kalau bilang orang hotel pasti enak-enak makanannya. Jadi saya iyakan untuk ikut itu pelatihannya, saya tinggalkan lagi tesisku yang belumpi kelar-kelar demi sesuap nasi. Belumpi selesai pelatihan yang di hotel pergi ma lagi karena sudah mi saya jadwalkan untuk kegiatan selanjutnya walaupun kopi ji di nikmati. Tapi alhamdulillah mi bisa lagi masuk hotel.
Setiba ditempat kegiatan yang satu yang temanya berkebun. Ya berkebun-kebun maki ini. Ya anggapan orang kalau di kota itu nda bisa berkebun itu salah besar. Tidak perlu ji kebun yang luas, berhektar-hektar kayak lapangan pesawat terbang. Yang dibutuhkan sebenarnya adalah bibit dan media. Medianya juga yang kecil-kecil saja. Macam pot atau botol-botol bekas yang sudah na buang orang-orang, dari pada jadi sampah mending kita gunakan untuk tempat tanaman ta. Jadi kita bisami tanam sayur, tanam bunga juga. Tidak perlu mi lagi belanja sayur banyak-banyak dipasar. Kan ada mi tanaman sayur ta di pot.
Tiba pukul 18.30 wita Makassar mulai diguyur hujan yang itensitas airnya sedikit tapi lumayan banyak. Kan ada pepatah yang mengatakan “sedikit-demi sedikit lama-lama jadi bukit” kalau ini hujan sedikit demi sedikit tapi lama-lama basah mami. Saya bertekad melanjutkan perjalanan ke sebuag cafĂ© tempat kegiatan ini berlanjut. Ekspektasi saya saat itu, ahh paling pematerinya ini sama ji yang 2 kegiatan yang saya ikuti, ada yang tidak menariknya namaya juga pemateri lokal jam terbangnya belum pi ditau seberapa banyak. Sesampanya saya disana dengan sedikit gelisah karena belum ada teman-teman yang ngumpul saya lihat, jadi saya chat line koordinatornya kak fachri untuk menanyakan lokasi duduknya dimana. Dan taklama kak fachri pun keluar, kemudian sama diantarkan masuk oleh kak adi (karna kak fachri yang suruh).
Saya langsung takjub pada seseorang yang duduk menunduk dikursi yang mejanya agak besar. Dalam hati saya bertanya inikah pematerinya. Kalau iya kenapa dia cepat sekali datangnya, na pesertanya baru kak fachri sama kak adi yang notabenenya mereka adalah penyelenggaranya. Saya mau sapa tapi agak malu karena dia sedang sibuk dengan gawainya yang lebar.
Satu persatu teman Pecandu Aksara sudah berdatangan, acarapun dimulai dengan pembukaan oleh moderator ya kak fachri sendiri. Dengan memperkenalkan pemateri yang akrab di sapa OPPA LEBUG, yang awalnya saya pikir panggilan OPPA itu panggilan kakek.
Nah masuk sesi pemateri yang langsung memperkenalkan Identitas aslinya, nama sebenarnya “SYAMSUL” (kalau tidak salah karena saya lupa-lupa ingat) yang akrab di panggil “kak ancu” dan latar belakangnya yang mengapa iya menggunakan kata Oppa lebug, ternyata beliu suka film korea yang itu kalau di film kalau si perempuan ini menggangil kak laki-lakiya dengan sebutan “OPPA” di situ mi kak ancu ganti namanya jadi OPPA Lebug. Tapi kalau Lebug nya saya belum tau.
Ternyata oh ternyata ekspektasiku tidak sama dengan kenyataan. Ternyata Oppa Lebug keren caranya bawa materi. Santai tapi serius, berbobot sekali. Tidak sia-sia ka tembus hujan dan sampai berjam-jam duduk tidak terasa sekali selesai mi materinya.
Sedikit review tentang materi Oppa Lebug.
Jadi seorang penulis itu harus “Kepo”. Apa itu? ya penulis itu harus mau cari tau apa yang akan dia tulis, misalnya apa yang lagi trend sekarang atau apa yang orang lain gosipkan sekarang. Itu semua bisa menjadi suatu bahan tulisan yang bisa jadi menjadi sesuatu yang baru bagi orang lain yang belum pernah dengar. Jadi ide-ide untuk membuat suatu tulisan itu jangan mi jauh-jauh cari, cukup aktivitas yang dikerjakan setiap hari.
Menulis itu jangan mi kita selalu mau menulis hal-hal besar, mulai dari yang kecil-kecil dulu. Karena bisa jadi banyak orang yang belum membaca hal-hal kecil. Karena otak manusia itu cenderung menerima ide dengan menggunakan pikiran sadarnya, iya tak memperdulikan lagi pikiran bawah sadarnya, contohnya jam tangan yang mungkin sebagian orang memakainya, tiap hari na pake tapi ciri-ciri jamnya sendiri tidak na tau, yang na tau jam nya menunjukkan angka.
Menulis itu sama seperti menulis sebuah diari, yang menceritakan apa yang sedang dialami saat ini, kadang tulisan di diari kita senang, kadang sedih, jegkel bahkan marah semua itu akan kita tuangkan di diari itu. menulis di diari itu kita sangat jujur menungkapkan unek-unek kita dan juga membuat menjadi terapi untuk diri kita.
Jadi menulis itu sangat mudah, ide untuk sebuah tulisan itu ada disekitar kita. Tapi memang kadang kala kita melupakan atau membiarkan ide itu karena adanya gawai yang kita pegang tiap hari. Kita jarang lagi menulis karena banyaknya media sosial yang kita punya grup-grup akun sosial lainnya yang mengungah gambar dan lain sebagainya. Tapi sebenarnya gawai itu mampu menolong kita untuk membuat suatu ide tulisan yang bisa jadi membantu orang lain. Kalau menurut teman saya di kompasiana Makassar ya menulis itu bisa menjadi “Amal Jariah”. Kita sebar di media dan berguna untuk orang itu, orang itu sebar lagi dan seterusnya. Jadi mungkin orang lain yang tidak kita kenal namun dia baca tulisan kita masalah nya bisa terselesaikan. Wallahualam
Jadikan anda ini seorang pembaca, jadi kadang kala kita mencari reverensi di Mbah Google. Pencarian kita itu bisa menjadi sebuah ide utuk tulisan baru anda. Jadi anda melihat-lihat dulu gaya tulisan mana saja yang sudah ada, atau poin-poin apa saja yang sudah iya bahas, mungkin ada salah satu tulisannya itu tidak dijelaskan lebih rinci lagi dan orang lain sering mencari rincian dari poin-poin tersebut. Maka disitu kita sudah bisa menulis tentunya dengan referensi-referensi yang lain atau bisa juga dengan cara mengambil sebuah buku dan mengacak kata dalam buku itu dan pilih mana yang akan dijadikan tema tulisan anda itu. Meriveiw sebuah buku atau film juga mampu membantu kita untuk menulis. Bahkan ada yang tidak mempunyai ide pun jadi tulisannya, malah bisa sampai Sembilan ratus tujuh puluh katadan tulisannya mampu membuat dia juara di kelasnya. Intinya jangan “MALAS MEMBACA”. Kalau ada orang bilang tidak tau ka menulis satu ji yang di jawabkan ki “kah kuttu ji ko memang”.
Ada lagi yang harus kita ketahui yaitu sudut pandang. Kadang kita berdebat dengan teman kita karena permasalahan sepele contohnya ini percobaan dikelas tadi. kita dikasi sebuah kertas hvs, yang produksinya sama, bahannya sama, warnanya sama bahkan pertanyaan yang di ajukan sama “apa yang kau lihat dari kertas itu” dari empat orang ditanya beda-beda ki jawabanya. Melis jawab ada butiran-butiranya, pak puguh jawab ada banyangannya, cowok disebelahnya pak puguh jawab melihat disudut mana iya akan menuangkan tulisannya, dan terakhir kak irma menjawab kalau yang iya lihat adalah banyangan kekasihnya.
Setiap orang mempunyai sudut pandang berbeda, entah dipengaruhi oleh tempat lahir, tempat bergaul, tempat dia sekolah, latar belakang orang itu sangat berbeda. Pepatah orang barat sana “how something appears is always a matter of perspective” (cari maki di google artinya nah).
So banyak orang-orang di antara kita suka membuli orang lain, yang padahal itu sebagian orang melakukannya. Jadi jangan munafiklah, berarti kita membuli diri kita sendiri. Hanya saja dia yang apes mungkin tertangkap kamera dan menjadilah trending topik di segala media. Jika pintar-pintarlah kita menempatkan diri kita dalam hal-hal yang di anggap tabu dan tidak layak di pertontonkan.
Dalam suatu penulisan itu, jika kita ingin membuat orang lain menarik untuk membacanya ya percantik judul anda buat semenarik mungkin, mungkin iramanya yang enak didengar atau membuat orang lain penasaran, yang kedua adalah kata pertama yang kita tematkan diawal paragraf harus semenarik mungkin, bisa dengan sebuah kutipan atau pernyataan orang lain.
Kesimpulannya, menulis membuat kita sehat dan menulis itu membuat kita cerdas. Apalagi kalau menang ki, lumayan bisa bayar cicilan. Yang penting, ini saya kutip dari dosen saya lagi “ menulis itu bisa membuat orang lain kenal kita walau pun kita sudah meninggal, jadi tulisan kita itu warisan untuk anak Cucuta”



Komentar
Posting Komentar