DUKA DI BALIK DERING GAWAI

sumber: http://id.wikihow.com
Perempuan itu entah dimana aku pernah melihatnya. Disebelahnya duduk seorang pemuda yang juga tak asing bagiku. Ku pikir ada yang salah pada tingkahnya. Entah apa yang membuatnya terlihat gusar, wajahnya yang merah penuh amarah. Ada sesuatu yang tak ia sukai di tempat ini. Aku kembali kerutinitasku dengan setumpuk kertas diatas meja, dengan berharap suatu hari ketika bertemu lagi kusapalah ia.

Sore itu kuliat lagi iya bersama seorang wanita setengah baya dengan kilauan emas melilit di badannya. Kali ini wajahnya merona, tinggkahnya penuh dengan kemerdekaan. Terlihat merek ternama tertulis di kantong belanja yang ia bawa ditangan kirinya. Tangan kanannya memegang ice cream yang berwarna warni. Kini mereka memasuki sebuah toko. Mataku tertuju pada papan nama yang tertera di atas pintu masuk ditoko itu, dengan singap kualihakan mataku kearah lain.

Seminggu setelah sore itu, perempuan itu datang lagi. Tak ada yang menanggapinya. Aku pun yakin aku salah pernah bertemu dengannya. Mungkin hanya orang lain yang mirip dengan perempuan itu. “Tapi apa yang sedang iya lakukan di kantor kecil ku ini?”. Kantor ku ini melayani wedding organizer tapi tak begitu besar. Hanya sebagian kecil orang sepertinya datang ditempatku ini.

Sita seorang pegawaiku menghampirinya, “apakah mba akan menggunakan jasa kami?”, iya hanya termenung, mengelilingi pajangan gaun-gaun putih itu, dan berhenti di depan sebuah gaun yang menjadi gaun kebanggan kami. “apakah mba ingin mencoba gaun ini?” kembali sita menanyakan kepadanya. Wajahnya yang cemas itu kini terlihat bersahabat. Sebuah anggukan serta senyum simpul terlihat di wajahnya. “Rita, Rina, desi, wanto, ojan Tolong bantu Sita” akupun dibuat senang hingga menyuruh setengah karyawanku melayaninya dengan baik.

Hari itu kami mengadakan perayaan kecil-kecilan karna kali ini ada yang pesta besar yang akan kami tangani. Perempuan itu telah menandantangani kontrak kerjasama dengan wedding organizer kami. “kita akan menangani ini dengan seluruh kempuan kita”, aku berdiri dan mengangkat gelas penuh soda. “untuk keberhasilan kita” sita juga ikut berdiri,  “untuk WO RE SA MI” ojan pun berdiri, di ikuti Rita, Rina si kembar Desi dan wanto juga ikut berdiri “Cheers” kami serentak serta menumbrukkan gelas-gelas kami

Saat paling menanggakan itu  tinggal beberapa menit lagi. Segala kemampuan dan kreativitas kami sudah kami curahkan bukan hanya pengantinnya tegang tapi kami pun mulai gelisah. “Dag dig dug” saat itu hanya itu yang terdengar, suara itu kian terdengar jelas ketika tim kecil kami mulai berkumpul. Pasalnya selama kami mendekorasi tempat ini tak ada keluarga dari mempelai yang melihat kerja kami. Mereka mempercayakan full semua kebutuhan pesta mereka pada kami. Hanya melalui telepon kami saling bersahutan. Gaun pengantinya pun telah di ambil di hari ia menandatani kontrak tersebut.

Mobil-mobil mewah telah rapi terparkir di dengan rapi.  Kami langsung menjemput seluruh undangan serta mempelai perempuan. Wajah mereka terlihat cemas tapi mereka tetap berjalan menuju pelaminan. “kenapa mempelai prianya belum terlihat?” wanto melihat kejanggalan itu. Tak satupun dari mereka yang menjawab.
Tapi ketika mereka mulai melihat area pelaminan wajah mereka mulai ceria kembali. Tapi itu tak berlangsung lama karena sebuah deringan telpon yang mungkin mereka tunggu kini mengiung-ngiung. Perempuan itu mengangkat panggilan telepon itu. Matanya mulai penuh dengan air-air yang terus mengalir di pipinya. Handphone itupun jatuh terbelah, seluruh undangan juga mulai mengeluarkan air melalui matanya yang penuh dengan polesan  bedak-bedak mahal.

Wajahnya perempuan itu berubah ada dendam yang tak sanggup lagi iya tahan. Hingga akhirnya itu keluar dari mulutnya. Rasanya pedas sekali. Hingga hatinya turut terbakar dalam kesedihannya. Penuh, hingga meluap, tumpalah semuanya tanpa ada yang mampu menahan. Bahkan telinga itu pun kini jebol hingga masuk kedalam dadanya. Kemudian ia menjelma menjadi belati yang tajam, membuat isi dalam dadanya tersayat-sayat tak berbentuk. Di ujung matanya ada bulir-bulir bening sebesar jangung yang juga siap untuk mengelinding diatas bidang datar nan halus itu menyisakan sedikit warna hitam.

Sebuah kilatan melintas diatas matanya, mengingat, menyebut, menghayati, seketika ia ambruk. Dengan sedikit kilatan itu, isi dalam dadanya terbentuk kembali. Sedikit demi sedikit amarahnya mulai  mereda, namun tetap saja banyangan hitam itu telah menguasai tubuhnya. Bahkan isi kepalanya pun kini telah menghitam, menyisahkan sedikit cahaya lilin yang kian meredup. Ironis sekali yang menimpa perempuan itu hingga ia tak mampu mengingat apa-apa lagi, namanya pun tak ada lagi dalam ingatannya.



Tunggu kisah selanjutnya...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayo Berwirausaha: Start Your Online Bussiness Now

Sebuah Surat untuk Sahabat

12 MANFAAT NABUNG DI PRUDENTIAL